Sabtu, 11 Agustus 2018

Cerpen; Catatanku



Rembulan mengintip di balik sunyinya malam. Lantunan ayat suci berkumandang merdu dari bibir yang mulai mengkerut milik seorang wanita paruh baya yang kusebut Ibu. Satu windu lebih kami lewati tanpa hadirnya seseorang yang seharusnya memberikan daging untuk membalut tulang-tulang kami yang mungkin rapuh, karena hanya nasi aking dan garam yang kami punya.
Di balik papan kayu yang berdiri seadanya, kami biasa melepas lelah setelah seharian mengais sampah-sampah plastik di perumahan orang kaya yang bisa kami sulap menjadi logam-logam yang sangat berharga untuk kami.
Malam ini, kami kembali tidak makan. Tidak ada bahan yang bisa kami makan, kerikil pun kami tak punya. Hanya baskom kecil yang kami jadikan modal untuk menampung titik-titik air yang menetes dari langit untuk kami masak dan kemudian diminum, sekadar mengelabui perut kami yang terus-menerus berteriak lapar, bukan haus.
***
Thya. Ya, memang hanya itu namanya. Seorang gadis 17 tahun yang harus bersusah payah dan berpeluh keringat demi mengubah nasib dirinya. Siswi SMA yang tidak terlalu menonjol di kalangan sebayanya karena memang tidak ada yang bisa ditonjolkan. Wajah pas-pasan, otak pas-pasan, dan uang? Melarat! Yaa itulah garis hidup kami para rakyat jelata.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, aku berangkat ke sekolah dengan seragam lusuh dan sepatu rongsok yang aku pungut di tumpukkan sampah dekat gubukku, serta membawa tas kain kumal yang Ibu buatkan 5 tahun silam. Tertunduk lesu menelusuri perjalanan yang selalu penuh dengan tatapan hina. 
Aku bersyukur karena Tuhan masih mengizinkanku duduk di bangku SMA dengan semua keterbatasanku. Namun, adakah jalan lain dalam hidupku Tuhan? Aku lelah! Lelah dengan semua kekuranganku! Rasanya ingin lenyap saja dari dunia ini! Aku sempat berpikir untuk menjadi seorang pengemis, tapi Ibu langsung membentakku dan berkata, “Jika kau menjadi seorang pengemis, berarti kau sama saja dengan apa yang kau pungut setiap harinya!” Aku terdiam dan butiran bening jatuh dari kedua mataku. Tuhan… bila Engkau memang adil, mengapa tidak Kau tukar saja nasibku dengan orang-orang kaya itu?! Mengapa harus aku yang memungut sampah-sampah mereka?! Dengan entengnya mereka membuang tumpukkan nasi tanpa memikirkan kami yang banting tulang untuk mendapatkan sebutir nasi. Adilkan ini Tuhan?
***
Aku hanyalah seonggok tulang yang membisu
Seperti sampah yang membusuk
Sudah dibuang, diludahi, diinjak pula!
Tak ada guna, tak ada indah
Tatapan hina itu slalu muncul menguntit ragaku
Meninggalkan goresan pilu di hati
Aliran nanah meluber dari ruang hatiku
Terlalu banyak goresan yang mencabik hatiku
Tuhan…
Kumenunggu keadilan-Mu
                -Thya- 

“Puisimu bagus.” Sapa seorang lelaki seraya menepuk pundak Thya.
“Eh Soni, bikin kaget saja. Kok puisiku bisa ada di kamu Son?”
“Iya, kemarin kamu menjantuhkan lembar puisimu di koridor dekat kelasku, nih..”
“Ooh untung saja kamu menemukannya, aku bisa malu kalau ada orang lain membaca                    puisiku.”
“Hahaha.. puisimu bagus kok! Jangan minder gitu dong Thya.”
“Hehe.. makasih ya Son.”
Soni. Satu-satunya lelaki yang memberi perhatian lebih terhadapku. Semua kekuranganku yang membuat Ia menyimpan hati untukku. Aku merasa tak pantas untukknya. Dia langit, aku bumi. Terlampau jauh! Sudahlah, nikmati saja garis takdirku yang seperti ini.
***
Pada suatu hari yang kelabu. Ibuku lagi-lagi mengeluh karena dadanya yang sakit. Bukan sakit karena menahan tatapan hina yang selalu menguntit kami, Ibu sakit karena memang ada peyakit tak berperikemanusiaan yang menggerogoti tubuhnya sejak 3 tahun silam. Hanya air hangat yang bisa kusuguhkan untuk Ibuku, dengan harapan Ibu bisa kembali pulih.
Aku menangis, kembali menangis. Inikah yang harus kujalani, Tuhan? Berilah kami kemudahan, kemudahan untuk keluar dari garis takdir-Mu yang sungguh menyusahkan kami! Tubuhku kering, terlalu sering menumpahkan air untuk meratapi nasibku. Ya Tuhan.. tuntunlah kami.
Ibu menyuruhku untuk bekerja saja dan tak usah mempedulikannya. Tentu aku lebih memilih merawat Ibuku daripada harus memungut sampah yang menjadi sahabatku. Tapi memang dasar Ibu keras kepala, aku dipaksa untuk tetap bekerja. Ku awali siang ini dengan sejuta gundah di hati.
***
Pukul 19.08 WIB. Ya Tuhan.. apalagi ini? Aku terdiam. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibirku yang mulai kaku. Tubuhku gemetar, lemas. Perlahan air mataku jatuh dari kedua sudut mataku, kini semakin deras tak tertahan. Aku tersungkur lemas dan berteriak. Mencoba menenangkan diri dengan memeluk erat tubuhku dengan kedua tanganku yang tak mampu berbuat apa-apa, tak mampu mengubah takdir. Kenapa harus Ibu?!! Kenapa tidak Kau ambil saja nyawaku Tuhan?!!! Kini aku benar-benar sendiri menikmati pahitnya hidup.
Ibu. Hanya kau yang mampu membuatku tersenyum dalam tangis. Menenangkanku lewat lantunan ayat suci yang selalu kau kumandangkan setiap malam tiba. Tapi, malam ini kau tidak berkumandang untuk selamanya. Aku percaya Tuhan Maha Adil, aku akan menunggu saat-saat itu. “Yang tenang di sana ya bu…”
Orang-orang berdatangan ke gubukku yang membuatnya semakin sesak saja. Semua mendoakan Ibu. Ibu memang orang baik, semoga Ibu bahagia di sana.
***
Semenjak kepergian Ibu, Soni jadi semakin perhatian kepadaku. Sesekali Ia mengajakku untuk menemaninya mencari buku-buku yang menarik. Malam ini, Soni menjemputku di ujung gang kumuh dekat gubukku. Selalu ada kebahagiaan yang terselip di balik kesedihan. Aku semakin yakin dengan Soni.
Setelah puas mendapatkan buku yang diinginkannya, Soni mengajakku berkunjung ke rumah sahabatnya, Dewa. Aku mengiyakan dan esok hari pun tiba.
***
            JAKARTA, HARIAN NEWS - Ditemukan mayat seorang wanita terbujur kaku di rumah    seorang warga. Terdapat memar di sekujur tubuh dan luka di organ vital. Diduga korban diperkosa sebelum dibunuh. (bersambung ke hal 15 kolom 2)
            Soni yang selama ini kupikir baik ternyata ia adalah iblis bersayap malaikat yang tega menodaiku. Aku telah salah menilainya. Ia tak lebih baik dari seekor serigala yang menghajar mangsanya dengan buasnya. Semoga Tuhan mengampuni dosanya, orang yang kucintai.

            Aku hanya seonggok tulang yang tak berdaya
            Anjing-anjing itu tak berhenti menjilatiku
            Berlelehan air liur, semakin terlihat menjijikkan
            Aku hina, aku kotor..
            Sesekali anjing-anjing itu menginjak dan memutar-mutar ragaku
            Aku diam tak kuasa melawan
            Semakin keras perlawanan, tubuhku perlahan remuk
            Remuk dan akhirnya binasa dengan segala kelemahanku
            Inilah akhir perjalananku..

Bekasi, 18 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar