Rembulan
mengintip di balik sunyinya malam. Lantunan ayat suci berkumandang merdu dari
bibir yang mulai mengkerut milik seorang wanita paruh baya yang kusebut Ibu.
Satu windu lebih kami lewati tanpa hadirnya seseorang yang seharusnya
memberikan daging untuk membalut tulang-tulang kami yang mungkin rapuh, karena
hanya nasi aking dan garam yang kami punya.
Di
balik papan kayu yang berdiri seadanya, kami biasa melepas lelah setelah
seharian mengais sampah-sampah plastik di perumahan orang kaya yang bisa kami
sulap menjadi logam-logam yang sangat berharga untuk kami.
Malam
ini, kami kembali tidak makan. Tidak ada bahan yang bisa kami makan, kerikil
pun kami tak punya. Hanya baskom kecil yang kami jadikan modal untuk menampung
titik-titik air yang menetes dari langit untuk kami masak dan kemudian diminum,
sekadar mengelabui perut kami yang terus-menerus berteriak lapar, bukan haus.
***
Thya.
Ya, memang hanya itu namanya. Seorang gadis 17 tahun yang harus bersusah payah
dan berpeluh keringat demi mengubah nasib dirinya. Siswi SMA yang tidak terlalu
menonjol di kalangan sebayanya karena memang tidak ada yang bisa ditonjolkan.
Wajah pas-pasan, otak pas-pasan, dan uang? Melarat! Yaa itulah garis hidup kami
para rakyat jelata.
Sama
seperti hari-hari sebelumnya, aku berangkat ke sekolah dengan seragam lusuh dan
sepatu rongsok yang aku pungut di tumpukkan sampah dekat gubukku, serta membawa
tas kain kumal yang Ibu buatkan 5 tahun silam. Tertunduk lesu menelusuri perjalanan
yang selalu penuh dengan tatapan hina.
Aku
bersyukur karena Tuhan masih mengizinkanku duduk di bangku SMA dengan semua
keterbatasanku. Namun, adakah jalan lain dalam hidupku Tuhan? Aku lelah! Lelah
dengan semua kekuranganku! Rasanya ingin lenyap saja dari dunia ini! Aku sempat
berpikir untuk menjadi seorang pengemis, tapi Ibu langsung membentakku dan
berkata, “Jika kau menjadi seorang
pengemis, berarti kau sama saja dengan apa yang kau pungut setiap harinya!”
Aku terdiam dan butiran bening jatuh dari kedua mataku. Tuhan… bila Engkau
memang adil, mengapa tidak Kau tukar saja nasibku dengan orang-orang kaya itu?!
Mengapa harus aku yang memungut sampah-sampah mereka?! Dengan entengnya mereka
membuang tumpukkan nasi tanpa memikirkan kami yang banting tulang untuk
mendapatkan sebutir nasi. Adilkan ini Tuhan?
***
Aku hanyalah seonggok tulang yang
membisu
Seperti sampah yang membusuk
Sudah dibuang, diludahi, diinjak
pula!
Tak ada guna, tak ada indah
Tatapan hina itu slalu muncul
menguntit ragaku
Meninggalkan goresan pilu di hati
Aliran nanah meluber dari ruang
hatiku
Terlalu banyak goresan yang mencabik
hatiku
Tuhan…
Kumenunggu keadilan-Mu
-Thya-
“Puisimu
bagus.” Sapa seorang lelaki seraya menepuk pundak Thya.
“Eh
Soni, bikin kaget saja. Kok puisiku bisa ada di kamu Son?”
“Iya,
kemarin kamu menjantuhkan lembar puisimu di koridor dekat kelasku, nih..”
“Ooh
untung saja kamu menemukannya, aku bisa malu kalau ada orang lain membaca puisiku.”
“Hahaha..
puisimu bagus kok! Jangan minder gitu dong Thya.”
“Hehe..
makasih ya Son.”
Soni.
Satu-satunya lelaki yang memberi perhatian lebih terhadapku. Semua kekuranganku
yang membuat Ia menyimpan hati untukku. Aku merasa tak pantas untukknya. Dia
langit, aku bumi. Terlampau jauh! Sudahlah, nikmati saja garis takdirku yang
seperti ini.
***
Pada
suatu hari yang kelabu. Ibuku lagi-lagi mengeluh karena dadanya yang sakit.
Bukan sakit karena menahan tatapan hina yang selalu menguntit kami, Ibu sakit
karena memang ada peyakit tak berperikemanusiaan yang menggerogoti tubuhnya
sejak 3 tahun silam. Hanya air hangat yang bisa kusuguhkan untuk Ibuku, dengan
harapan Ibu bisa kembali pulih.
Aku
menangis, kembali menangis. Inikah yang harus kujalani, Tuhan? Berilah kami
kemudahan, kemudahan untuk keluar dari garis takdir-Mu yang sungguh menyusahkan
kami! Tubuhku kering, terlalu sering menumpahkan air untuk meratapi nasibku. Ya
Tuhan.. tuntunlah kami.
Ibu
menyuruhku untuk bekerja saja dan tak usah mempedulikannya. Tentu aku lebih
memilih merawat Ibuku daripada harus memungut sampah yang menjadi sahabatku.
Tapi memang dasar Ibu keras kepala, aku dipaksa untuk tetap bekerja.
Ku awali siang ini dengan sejuta gundah di hati.
***
Pukul
19.08 WIB. Ya Tuhan.. apalagi ini? Aku terdiam. Tak sepatah kata pun terlontar
dari bibirku yang mulai kaku. Tubuhku gemetar, lemas. Perlahan air mataku jatuh
dari kedua sudut mataku, kini semakin deras tak tertahan. Aku tersungkur lemas
dan berteriak. Mencoba menenangkan diri dengan memeluk erat tubuhku dengan
kedua tanganku yang tak mampu berbuat apa-apa, tak mampu mengubah takdir. Kenapa
harus Ibu?!! Kenapa tidak Kau ambil saja nyawaku Tuhan?!!! Kini aku benar-benar
sendiri menikmati pahitnya hidup.
Ibu.
Hanya kau yang mampu membuatku tersenyum dalam tangis. Menenangkanku lewat
lantunan ayat suci yang selalu kau kumandangkan setiap malam tiba. Tapi, malam
ini kau tidak berkumandang untuk selamanya. Aku percaya Tuhan Maha Adil, aku
akan menunggu saat-saat itu. “Yang tenang di sana ya bu…”
Orang-orang
berdatangan ke gubukku yang membuatnya semakin sesak saja. Semua mendoakan Ibu.
Ibu memang orang baik, semoga Ibu bahagia di sana.
***
Semenjak
kepergian Ibu, Soni jadi semakin perhatian kepadaku. Sesekali Ia mengajakku
untuk menemaninya mencari buku-buku yang menarik. Malam ini, Soni menjemputku
di ujung gang kumuh dekat gubukku. Selalu ada kebahagiaan yang terselip di balik
kesedihan. Aku semakin yakin dengan Soni.
Setelah
puas mendapatkan buku yang diinginkannya, Soni mengajakku berkunjung ke rumah
sahabatnya, Dewa. Aku mengiyakan dan esok hari pun tiba.
***
JAKARTA,
HARIAN NEWS - Ditemukan mayat seorang wanita terbujur kaku di rumah seorang warga. Terdapat memar di sekujur
tubuh dan luka di organ vital. Diduga korban diperkosa
sebelum dibunuh. (bersambung ke hal 15
kolom 2)
Soni yang selama ini kupikir baik
ternyata ia adalah iblis bersayap malaikat yang tega menodaiku. Aku telah salah
menilainya. Ia tak lebih baik dari seekor serigala yang menghajar mangsanya
dengan buasnya. Semoga Tuhan mengampuni dosanya, orang yang kucintai.
Aku
hanya seonggok tulang yang tak berdaya
Anjing-anjing
itu tak berhenti menjilatiku
Berlelehan
air liur, semakin terlihat menjijikkan
Aku
hina, aku kotor..
Sesekali
anjing-anjing itu menginjak dan memutar-mutar ragaku
Aku
diam tak kuasa melawan
Semakin
keras perlawanan, tubuhku perlahan remuk
Remuk
dan akhirnya binasa dengan segala kelemahanku
Inilah
akhir perjalananku..
Bekasi, 18 Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar