Senin, 22 Agustus 2011

CERPEN 2

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Cerpen kali ini, gue buat pas pertama kali gue duduk di bangku dan nulis di meja SMA. Selamat Membaca!

Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Masa Orientasi Siswa

Mentari menyapaku dengan sinar cerahnya. Mata terasa berat menahan kantuk. Kulawan rasa itu dengan sekuat tenaga. Hhhh.. Awal yang berat untuk memulai hari yang berat. “Semangaaaat…!” teriak batinku. Kumulai hariku dengan melirik wajah bantalku di cermin antik yang sejak dulu sudah bertengger manis di sebelah tempat tidurku. “Oh no! muka gue berminyak banget L”. Wajah manisku yang tak jarang memikat hati para lelaki merupakan produsen minyak terbesar di anggota tubuhku! Dengan cepat kuambil kertas minyak untuk menghilangkan minyak alami di wajahku, untuk sementara waktu tentunya.
“Ginaaaa… cepetan bangun! Udah jam 6 nih”. Suara nyaring mama memenuhi seisi ruangan. Aku berlari kecil menuju kamar mandi dan 15 menit pun berlalu. “Aduuuuh mama, tolong bantuin dong!” Kegaduhan pun mulai terjadi.
“Suspendernya ma, rombe-rombenya juga tuh, topinya mana? Kardus sama korannya udah disiapin kan ma? Tasnya ma, tasnya! Lah kok tasnya belum dikasih tulisan ‘syahrini’ maaaa?!!”. Teriakku panik.
“Gimana sih kemaren kan udah diingetin. Yaudah sini cepetan ditulis langsung aja pake pulpen.” Sahut mamaku.
Jarum jam menunjukkan pukul 06.40 WIB. Dengan cepat ayahku menancap gas menuju sekolahku. Brem brem ngoeeeeng, kira-kira begitulah bunyi motor ayahku. Tidak sampai 5 menit, aku sudah sampai di depan gerbang yang akan menjadi sekolahku selama 3 tahun ke depan. Kak Furqan dengan postur tubuh yang tinggi menjulang sudah berdiri tegap menyambut dengan wajah yang seram penuh amarah dan tongkat hitam yang senantiasa melengkapi kegagahan para TDK (Tim Disiplin Khusus). Setengah berlari, aku menuju kelas dengan membawa seabreg barang adat dan memakai pakaian adat yang asli ribet banget!
Dengan nada terengah-engah kuucapkan salam. Seisi kelas pun serempak menjawab. IMTAQ berjalan dengan khusyuk. Detik demi detik pun kulalui dengan rasa tegang yang melanda. Hari pertama MOS berlalu dengan cepat dan hari kedua MOS pun dimulai…
****
“MISIII DEK! PAKE ADAT DONG! NGGAK PERNAH DIAJARIN SOPAN SANTUN YA?!!”. Teriakkan TDK menghentak seluruh peserta MOS yang akan turun memenuhi lapangan untuk menyaksikan demo ekskul sekolahku.
Kulemparkan senyum ramah kepada temanku, tiba-tiba…
“NGGA USAH SENYUM-SENYUM! SOK CANTIK!!”. Salah satu TDK meneriakkiku, “Heeet, emang gue cantik!” gerutuku dalam hati. Dengan serempak peserta MOS yang mendengar teriakkan TDK tersebut menengok ke arahku, seperti sudah terlatih sebelumnya. Dan TDK itu berteriak untuk yang kedua kalinya, “NGGAK USAH NENGOK-NENGOK!!” Gerakan kepala peserta MOS yang tampak terlatih terulang kembali, terlihat muka-muka ciut dari teman-teman seperjuanganku dan bahkan ada yang menahan tawa karena terhibur dengan akting para TDK yang sangat profesional.
Hari semakin siang, matahari semakin mengeluarkan energinya untuk memanggang seluruh peserta MOS yang setia menanti penampilan dari TEATER yang di setiap angkatannya selalu melahirkan artis-artis sekolah yang tentunya tidak kalah hebat dengan artis-artis sinetron hihihi.
Hampir setengah jam berlalu. Saatnya evaluasi. Jantung berdebar cepat tak karuan, keringat mengucur dengan derasnya, kakiku lemas menanti kedatangan para TDK yang akan meluapkan seluruh amarahnya kepada kami, calon anak SMA yang masih lugu.
“Ayo dek, cepet dipake barang adatnya. Buku tanda tangannya jangan lupa dibuka ya”. Komando Kak Sayu, Pendamping Kelasku (PK).
“Oiya, permen lolipopnya dibuka sekarang aja biar ngga repot nanti”. Kak Eko yang juga menjadi PK ku menimpali.
Dengan wajah cemas, kami sabar menanti kedatangan para TDK, dan…
ASSALAMU’ALAIKUM! BERDIRI SEMUAAA BERDIRI!!”. Perintah para TDK.
TOK! TOK! TOK! TOK!”. Suara tongkat para TDK menghantam meja-meja tak berdosa dengan penuh amarah, sehingga keadaan kelas pun menjadi gaduh dan sangat menegangkan. Semua TDK berteriak tak beraturan, mencari mangsa yang akan menjadi santapannya di saat evaluasi berlangsung.
“KENAPA TANDA TANGANNYA BARU SATU DEK?!! MALES TAU NGGAK!”. Kak Iqbal, TDK termanis memarahiku. Tak sepatah kata pun kulontarkan. Kutundukkan kepalaku dengan wajah takut dan jantung berdebar. Diam dan terus menunduk, Kak Iqbal berlalu dengan tidak mempedulikanku. “Alhamdulillaaah..” tutur hatiku.
Sekitar 10 menit ketegangan berlangsung, para TDK keluar kelas dengan wajah yang merasa tak berdosa. Teman sekelasku menangis tak tertahan karena kejahatan para TDK yang merajalela. Huuhhh! semua teman-temanku mengaduh dengan kesal.
****
Cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam akan terus kukenang, slama-lamanyaaaa”. Lantunan lagu yang sering terdengar di radio terus diputar lewat speaker. Kuayunkan kakiku ke kiri dan ke kanan, kunaikkan kedua jempol tanganku dan bergoyang di atas podium. TDK tergalak sedang melototiku, dengan sangat terpaksa aku tetap bergoyang. Ratusan pasang mata otomatis memperhatikanku. Rasa malu pun menghinggapi diriku. Kriiiiiiing.. Bel penyelamat tiba-tiba berdering, tanda berakhirnya aksiku di atas podium.
TOK! TOK! TOK!!” suara tongkat TDK kembali terdengar. Salah satu TDK menarik kursi dan menyuruhku untuk berdiri di atasnya.
“BIASA AJA DONG DEK NGELIATNYA! NGERASA PALING CANTIK? HA?! NGGAK USAH SOK EKSIS!!” TDK itu terus menghujaniku dengan kalimat-kalimat yang sepertinya terus diulangnya. Tiba-tiba, salah satu TDK datang dan menyuruhku untuk berteriak, “Saya nggak akan nyolot!”. Tanpa basa-basi, langsung kuberteriak, “SAYA NGGAK AKAN NYOLOT! SAYA NGGAK AKAN NYOLOT! SAYA NGGAK AKAN NYOLOT!”. Berulang kali kuteriakkan kalimat itu dengan susah payah karena TDK itu menyuruhku mengemut permen lollipop yang menggantung di topi kartonku.
LO SEMUA NYOLOT! LO SEMUA NYOLOT! LO SEMUA NYOLOT!”. Teman sekelasku berteriak sambil mengarahkan tangannya ke segala penjuru dan memasang muka yang sangat polos. Pemandangan lucu itu membuatku hampir saja tertawa, ooops! Apa jadinya kalau aku tertawa, bisa-bisa semua TDK menyerbuku! Hihihi.
Jarum jam menunjukkan pukul 4 sore. Semua peserta MOS berkumpul di lapangan untuk melakukan apel penutupan tanda berakhirnya Masa Orientasi Siswa.
Terlihat pemandangan yang sangat berbeda. Para TDK berjalan menuju tengah lapangan dengan senyum yang mengembang, dan tongkat hitam yang mirip dengan tongkat hansip perumahan kini tak lagi terlihat di genggaman mereka. Satu per satu TDK meminta maaf kepada semua peserta MOS yang sedang terheran-heran melihat apa yang terjadi. Tanpa komando, kami semua berteriak, “Woooooo!!” kami menyoraki para TDK yang masih dengan wajah tak berdosa.
Apel penutupan berjalan sesuai rencana. Kini saatnya untuk memilih ekstrakulikuler. Kebingungan mulai kurasakan saat aku melihat bendera dari masing-masing ekskul dikibarkan.
“Karya Ilmiah Remaja sepertinya keren, bisa membuat roket sendiri. Ah tapi jangan deh, masa ekskul ujung-ujungnya belajar juga. Kalau ikutan di ekskul yang membuat majalah, hmm ngga ada eksis-eksisnya, di belakang layar itu mah. Gimana kalau PMR? Yaah ampun, ntar kerjaan gue gotongin orang pingsan mulu dah. Paskibra atau Pramuka yah?? Jangan deh, ntar gue bisa tambah item. Apa ikut Pecinta Alam aja ya, hmm bisa-bisa jatah nasi gue diganti jadi daun. Haduuuh, galau nih galaaauu. Pilih ekskul apa ya?? Aha! TEATER aja!! Siapa tau gue bisa jadi artis beneran hihihi”.
Setelah panjang lebar berpikir, akhirnya aku mendaftarkan diri untuk menjadi anggota TEATER di sekolahku, dan sekarang aku resmi menjadi siswi SMA!
*special for my friends in X.5

1 komentar: